Kamis, 04 Agustus 2016

KOSMOLOGI JAWA






Gusti Hingkang Welas Hasih, Hingkang Handeg Wikan lan Waskita, hingkang hanitahake tinggewikan jeng salir wose. Lan kiye kang dadi wahananing Gusti sawara sakabehe, kang ngutus hulun maringi warta marang tumitah Djowo.

Gusti  Yang Maha Pengasih, Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana, yang menjadikan semesta ini beserta isinya. Dan ini yang menjadi sabda Gusti, permulaan segalanya, yang mengutus aku memberi berita kepada tumitah Djowo.

(LAYANG DJOJOBOJO, Bagian dari Manuskrip Gunung Klothok)

Semesta adalah tempat kita berada. Dalam bahasa Jawa Kuno keberadaan ini dinamai dengan tinggewikan atau karasuh gumelar. Planet Bumi yang kita diami serupa satu noktah kecil pada semesta yang mahaluas. Kita memperbincangkan semesta sebagai bahan bercermin bagi diri kita sendiri karena kita adalah semesta kecil atau mikrokosmos.  Selain itu, memang diperlukan pengertian terhadap semesta ini karena dalam nalar spiritual Nusantara Kuna sangat ditekankan pentingnya keselarasan antara manusia dan semesta.

Minggu, 31 Juli 2016

Panduan Menemukan Guru Spiritual yang Sejati





Perjalanan spiritual meniti tangga-tangga kesadaran memang bukan perkara mudah.  Untuk mencapai tangga kesadaran yang semakin tinggi, jalannya memang berliku, penuh aral melintang.  Namun berita gembiranya, siapapun yang punya ketulusan dan bisa melampaui hasrat egoistiknya, niscaya bisa sampai tangga kesadaran tertinggi sesuai cetak birunya.  Demikianlah pengertian yang muncul saat saya merenungkan liku-liku perjalanan spiritual.

Bahkan ketika berbicara tentang “guru spiritual”, sungguh tidak mudah untuk menemukannya.  Banyak kasus dimana para pejalan spiritual mendapatkan penyingkapan betapa “guru spiritual” mereka sejatinya belum memiliki kejernihan jiwa.  “Guru spiritual” itu hanya punya kemampuan memainkan energi dan membuat banyak orang terkecoh persepsi dan penglihatannya.

Jumat, 29 Juli 2016

TUHAN, REALITAS YANG MELAMPAUI SEMUA IMAJI






Hana kang hanitahake siti pangelingan Djowo sumarengan jeng salir wose jejuluk GUSTI.  Sinungan  GUSTI kang sawara gesang,  hanitahake sawara prawasa ngagesang siti pangelingan Djowo, saking bayinat kang peteng sonoliko GUSTI sumalihake  trawang lan wenteh.   Kang  GUSTI cinanthen tumuwuh.

Ada yang menjadikan tanah pengingat Jawa beserta segala isinya yang dijuluki GUSTI. Dialah GUSTI yang merupakan permulaan hidup,  menjadikan permulaan aturan kehidupan tanah pengingat Jawa, dari keadaan yang gelap seketika itu GUSTI mengubahnya menjadi terang dan nyata.  Apa yang GUSTI ucapkan bertumbuh.   
(Layang Soworo, Dana 1)

Meditasi mendalam, niscaya membawa kita pada kesadaran bahwa ada realitas yang melampaui dark energy, dark matter, dan ordinary matter, dan bahkan merancang, mengatur, dan menata semuanya itu.  Itulah yang dalam terminologi Jawa dinyatakan sebagai Gusti. Realitas ini tanpa gatra, tetapi nyata ada dan mencerminkan kecerdasan tanpa batas.

Selasa, 26 Juli 2016

LAKU KEDJAWEN SAYEKTI





Layang Djojobojo (Layang Nata) yang merupakan bagian dari Manuskrip Kuna Gunung Klothok membabarkan laku Nusantara Kuna yang sesungguhnya.  Ternyata, di dalam kata Kedjawen, terdapat pola laku yang benar-benar bisa membawa manusia pada kecemerlangan dan kesempurnaan hidupnya.

Kata Kedjawen adalah tembung wancahan, atau kata yang tersusun dari aksara depan sebuah rangkaian kata.  Delapan kata yang aksara depannya membentuk kata Kedjawen, ternyata membentuk 8 formula hidup sempurna.  Rupanya bukan kebetulan juga jika angka 8 ini sekaligus merupakan simbol infinity, simbol energy yang tak pernah terputus, mengalir berkelanjutan secara penuh, membentuk kesempurnaan. 

Kamis, 21 Juli 2016

PERKEMBANGAN MANUSIA DI DALAM KANDUNGAN IBU MENURUT MANUSKRIP GUNUNG KLOTHOK





Manuskrip kuna dari Gunung Klothok yang telah ada sejak 4436 SM menguraikan fase demi fase pertumbuhan zygot atau janin di dalam kandungan ibu hingga tiba saatnya terlahir ke muka bumi.