Rabu, 26 Juli 2017

BLESSING





Blessing atau pemberkatan, pada intinya adalah pengaliran energi kasih agar terjadi harmoni, kedamaian dan kesukacitaan.  Blessing bisa dilakukan pada satu individu, bisa juga secara kolosal kepada Planet Bumi bahkan jagad raya beserta segenap penghuninya.
Blessing kepada individu dilakukan baik kepada orang yang memang kita sayangi, maupun kepada orang yang punya masalah dengan kita – kita anggap musuh atau menganggap kita musuh.  Blessing membawa kita melampaui kebencian, ketakutan, dan masuk sepenuhnya kepada kondisi penuh cinta kasih yang paling murni.
Kepada setiap anak, tentu sewajarnya melakukan blessing atau memberkati orang tuanya. Sebagai orang tua juga sewajarnya kita memberkati anak-anak kita.  Ini bisa kita lakukan dengan mengalirkan energi kasih murni dari pusat hati kepada mereka.  Sembari menyabda mereka terlindungi, berada dalam damai dan sukacita.
Tindakan yang sama juga bisa dilakukan kepada orang-orang yang punya masalah dengan kita.  Maafkan mereka, lalu alirkan energi kasih murni yang meningkatkan frekuensi vibrasi mereka.  Banyak keajaiban terjadi dimana ketika tindakan ini dilakukan, hubungan yang retak bisa terpulihkan.  Tentu saja, tidak semua kasus berhasil.  Pada kasus dimana orang yang kita blessing benar-benar memilih untuk tetap berada dalam angkara murka, maka persoalannya tidak terletak pada kita.  Tapi itu adalah bagian dari free willnya: ia memilih mengingkari sentuhan kasih yang sudah kita berikan.

Sabtu, 24 Juni 2017

MEDITASI PENJERNIHAN JIWA DARI PARASIT ENERGI



Dengan sengaja maupun tak sengaja, manusia bisa ditempeli bahkan dirasuki makhluk astral berfrekuensi rendah dari dimensi bawah.  Keberadaan makhluk astral ini membuat seseorang menjadi tidak murni jiwanya.  Makhluk astral ini menjadi parasit energi yang menyedot energi murni sekaligus menjadi tirai penghalang keterhubungan penuh dengan Guru Sejati.  Cara kerja yang umum, makhluk astral ini mengendalikan pikiran manusia yang ditempeli atau dirasukinya sehingga bisa bertindak sesuai agenda mereka.  Perlu dimengerti, bahwa sebagaimana manusia, makhluk astral berfrekuensi rendah dari dimensi bawah juga memiliki free will.  Jadi, mereka juga bisa memilih untuk memperalat manusia ketika ada kesempatan, dengan resiko tertentu yang pasti mereka tanggung pada waktunya.
Dalam khazanah supranatural, keberadaan makhluk astral yang menempel atau merasuki manusia ini dijuluki prewangan (bahasa Jawa) atau khodam (bahasa Arab).  Ada yang mendapatannya melalui ritual khusus baik melalui pembacaan mantra/wirid tertentu dengan berbagai bahasa, lewat upacara pemberian sesaji bahkan lewat laku penyiksaan diri seperti puasa pati geni atau ngebleng.  Ada juga yang mendapatkannya tanpa upaya demikian, tetapi prewangan/khodam itu datang sendiri atau diwariskan dari leluhur.   Sebagian orang yang punya talenta supranatural seperti yang dikategorikan anak indigo, seringkali tanpa mencari dan meminta mereka malah didatangi oleh makhluk-makhluk astral dari dimensi bawah yang ingin menumpang dengan alasan hendak membantu atau melindungi. 

Minggu, 11 Juni 2017

RANCANGAN AGUNG JAGAD RAYA





Realitas fraktal di jagad raya ini memang mengagumkan.  Fraktal adalah pengulangan pola pada satu bentuk secara terus menerus, tanpa batas.  Sesuatu yang kita anggap sebagai bagian dari keseluruhan, ternyata menyerupai keseluruhan itu hanya dalam ukuran yang lebih kecil.  Di jagad raya ini ternyata ada pola bentuk yang tetap dengan ukuran yang berbeda-beda.  Sebagai contoh,  pucuk cemara yang merupakan bagian dari keseluruhan pohon, memiliki kemiripan bentuk dari pohon itu.  Kita juga bisa menemukan sebuah spiral yang bentuknya berulang-ulang dalam formasi kurva (garis lengkung) yang melebar dan melebar. 

Sistem tata surya kita terdiri dari beberapa planet, yang semuanya berbentuk sama dan semuanya mengelilingi matahari yang berkali  lipat lebih besar dan lebih berat dari planet-planet di sekelilingnya.  Pola ini juga ada pada galaksi: membentuk pola spiral.   Pola yang sama dapat dilihat dalam inti atom dan elektron-elektron yang mengelilinginya dalam sebuah atom. Dan partikel-partikel sub-atom ini sebaliknya terdiri dari sub-partikel yang berputar.  Fenomena fraktal ternyata ada pada seluruh tingkatan jagad raya ini.

JAGAD RAYA ADALAH LAUTAN ENERGI




Menyelami  jagad raya dengan rasa sejati, kita memang akan menemukan perspektif-perspektif baru.  Kasunyatan jagad raya tidaklah seperti yang kita mengerti melalui pengamatan dengan panca indera.  Melalui panca indera kita bisa mengerti bahwa semesta ini terdiri dari keberadaan yang pada umumnya padat, serta terkategori menjadi benda mati dan makhluk hidup.  Batu, kayu, meteor, adalah contoh benda padat yang dikategorikan sebagai benda mati.  Tumbuhan, hewan, manusia, adalah contoh mahluk hidup yang juga terbilang padat. Tetapi dengan mendayagunakan rasa sejati, kita bisa menyelami kasunyatan jagad raya pada dimensi yang berbeda.  Kita bisa menyaksikan berbagai benda dan makhluk pada dimensi energi.  Setiap benda dan makhluk pada dasarnya adalah manifestasi dari energi dan masing-masingnya memiliki vibrasi tersendiri.  Dan pada tataran ini, sesungguhnya tak ada benda mati: semuanya hidup, semua bervibrasi.  Bahkan mayat manusia atau bangkai binatang dan tumbuhanpun sejatinya hidup karena kesemuanya adalah manifestasi energi yang terus mengalami dinamika dan transformasi menjadi bentuk-bentuk baru.  Maka, lewat penelusuran dengan rasa sejati jagad raya kemudian bisa dimengerti sebagai lautan energi yang bervibrasi.

Berbicara tentang energi, maka kita mau tak mau kembali pada kenyataan mengenai kekosongan (suwung) yang menjadi inti, memenuhi dan meliputi seluruh keberadaan.  Energi yang bekerja di jagad raya ini termasuk yang bekerja pada setiap benda dan makhluk hidup, berasal dan berakar pada ruang kosong (suwung).   Setiap benda dan makhluk tersusun dari partikel-partikel halus dan teramat kecil.  Di antara partikel-partikel itu terhamparlah ruang kosong.  Dan di dalam partikel-partikel itu sendiri juga terdapat ruang kosong, pada intinya dan diantara bagian-bagian yang lebih kecil dari partikel itu.

BENARKAH TUHAN ADA?




Jawaban atas pertanyaan apakah Tuhan itu ada, tergantung dari kesadaran kita mengenai kata ‘ada”.  Jika ada berarti kenyataan yang harus memiliki gatra atau bentuk fisik, sudah jelas jawabannya bahwa Tuhan memang tidak ada.  Karena dengan menggunakan instrumen apapun, tidak pernah ada yang bisa melihat atau menyaksikan sosok Tuhan. 

Jika “ada” diperluas hingga meliputi kasunyatan metafisik, pernyataan Tuhan itu ada atau tidak, tergantung kesadaran pada pengertian mengenai Tuhan itu sendiri.  Bagi yang berkesadaran bahwa Tuhan adalah Pribadi dengan keberadaan metafisik – dan secara sederhana kita mengkategorikan mereka sebagai penganut kepercayaan Tuhan Personal – ada teks kuno yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada.  Diceritakan tentang orang tertentu yang menyaksikan realitas atau kenyataan berupa sosok yang menakjubkan, agung, yang kemudian dinyatakan sebagai Tuhan.  Dalam Bhagawad Gita tertulis bahwa Arjuna menyaksikan Sri Krisna dalam rupaNya yang sesungguhnya sebagai Saguna Brahman (Tuhan yang mempribadi).